Museum Benteng Vredeburg

Sejarah Benteng Vredeburg

Setelah selesainya perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan mataram menjadi dua yaitu Jogja dan Solo, ternyata Jogja yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi atau yang kemudian dikenal dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I mengalami kemajuan pesat, perkembangan pesat ini membuat Belanda khawatir dan dengan segala intriknya akhirnya pihak Belanda merayu pihak Kraton Jogja untuk membangun benteng di dekat kraton untuk melindungi Kerajaan Yogyakarta jika mendapat serangan dari luar.

Setelah menanti selama 5 tahun barulah ijin dari Kraton Jogja untuk Belanda membangun benteng disetujui. Di atas tanah kraton, Benteng Vredeburg yang kita kenal sekarang dibangun pada tahun 1760-an. Meskipun sudah berusia 250 tahun, namun Benteng Vredeburg yang memiliki arsitektur khas Eropa kuno ini masih berdiri gagah karena dirawat dengan sangat baik. Meskipun dibangun di atas tanah kraton, namun pengelolaan Benteng Vredeburg dikuasai oleh Belanda melalui Perusahaan Hindia Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Pada jaman Jepang, Vredeburg digunakan sebagai salah satu basis militer pertahanan Jepang di Jogja. Selain digunakan sebagai penjara para tawanan perang, benteng ini dulunya juga digunakan untuk menyimpan persediaan persenjataan.

Setelah kemerdekaan tentunya kepemilikan gedung kembali ke Indonesia. Sejak itu bangunan Benteng Vredeburg telah digunakan untuk berbagai fungsi. Barulah pada tahun 1992 secara resmi bangunan Benteng Vredeburg digunakan sebagai museum hingga kini kita mengenalnya sebagai Museum Benteng Vredeburg.

Tiket Masuk Benteng Vredeburg

Patung Benteng Vredeburg
Pintu masuk Benteng Vredeburg terdapat pada sisi sebelah barat. Setelah berjalan melalui pelataran parkir, pengunjung akan menyebrangi jembatan kecil dari sebuah parit. Parit di sisi barat ini adalah satu satunya parit yang tersisa dari Vredeburg. Dulunya, parit dibuat mengelilingi benteng sebagai pertahanan kalau diserang oleh musuh. Setelah Jembatan barulah kita akan bertemu dengan pintu gerbang yang terdapat loketnya. Di sini kita harus membayar tiket masuk seharga Rp 2.000/orang dan Rp 1.000/kamera yang dibawa.

Memasuki kawasan benteng kita akan bertemu dengan taman cantik yang terasa kental sekali arsitektur tuanya. Kita juga akan disambut dengan beberapa patung tokoh kemerdekaan dan juga replika meriam di sekitar taman ini.

Beberapa bangunan di dalam Benteng Vredeburg dulunya memiliki berbagai macam fungsi, namun kini sudah disulap menjadi ruang pameran diorama. Diorama-diorama ini dikemas sangat menarik, susunannya dibuat runtun berdasarkan fakta sejarah. Dari awal pengunjung akan ditunjukkan dengan diorama Pangeran Diponegoro yang sedang berdiskusi bersama pasukannya di gua untuk melakukan perlawanan kepada kompeni.

Beberapa peristiwa sejarah ketika Kraton Jogja di bawah Hamengkubuwono IX mendukung kemerdekaan RI juga disajikan secara lengkap di Museum Benteng Vredeburg. Termasuk sejarah dibuatnya selokan mataram yang akhirnya sangat membantu irigasi di wilayah Yogyakarta. Diorama terakhir menampilkan peninggalan sejarah pahlawan kesaktian Pancasila, ketika serangan oleh PKI juga menimpa Jogja tepatnya di Kentungan.

Letak Museum Benteng Vredeburg

Letaknya yang sangat strategis di Jalan Malioboro menjadikan Museum Benteng Vredeburg seharusnya menjadi destinasi wajib bagi kalian yang sedang melancong di Jogja. Selain menawarkan wisata sejarah, keindahan arsitektur Vredeburg juga menarik untuk dinikmati. Untuk mencapai Vredeburg sangatlah mudah apalagi di depan benteng juga terdapat halte bus TransJogja.

Pencarian Terkait: